by

Yurisman Laia: Paslon 2 Sampaikan Visi dan Misi Penuh Emosional, HD-Firman Tenang dan Terukur


Nias Selatan, Mimbar Bangsa KPU Kabupaten Nias Selatan (Nisel) menggelar debat pertama kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan, Jumat (16/10/2020) di Aula BKPN Teluk Dalam, dan disiarkan langsung melalui laman Facebook KPU Kabupaten Nias Selatan, laman Facebook RRI Gunungsitoli dan YouTube RRI Gunungsitoli.

Kedua pasangan calon (Paslon) yakni Paslon 1 Dr. Hilarius Duha, S.H., M.H. dan Firman Giawa, S.H., M.H.  (HD-Firman) dengan Paslon 2 Idealisman Dachi dan Sozanolo Ndruru (Ideal-Sanolo), memaparkan visi dan misi mereka kepada publik.

Debat yang dimoderatori oleh Dr. Sukarman Purba, ST., M.Pd, bertemakan pencapaian visi dan misi dengan mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di masa pandemi Covid-19, sempat memanas terutama dari Paslon 2.

Salah satu tokoh masyarakat Nias Selatan, Yurisman Laia, S.H. kepada wartawan, menyebut, Paslon nomor urut 1 HD-Firman dalam menyampaikan  visi dan misi mereka menunjukkan sikap bijak, tenang dan terukur, berbeda dengan Paslon 2 Ideal-Sanolo, dimana lebih menunjukkan sikap yang emosional.

“Terutama dalam segi topik saja, kita bisa menilai bahwa Paslon 1 dan 2 pada saat pemaparan visi dan misi, kita sama-sama memahami walaupun ada beberapa yang barangkali semestinya itu tidak dijadikan visi dan misi, misalnya di Paslon 2 itu menyampaikan tentang program pendidikan gratis, sebenarnya itu tidak boleh karena hal itu telah diatur oleh undang-undang, yakni pendidikan 12 tahun,” jelasnya.

Dalam debat, pada sesi tanya jawab, Idealisman Dachi (Paslon 2) menyinggung soal ritual pemotongan ayam di Kecamatan Börönadu dan Hilarius Duha (Paslon 2), mempertanyakan soal mobil dinas yang dikuasai oleh Idealisman Dachi, yakni mobil Alphard dan Fortuner.

“Pada sesi tanya jawab, Paslon 1 mengambil sikap yang tenang, bijak dan menjawab semua pertanyaan itu dengan terukur dan menyajikan program juga dengan terukur, tidak terburu-buru dan tidak emosional,” tandasnya.

Mantan anggota DPRD Nisel itu mengatakan, pada sesi tanya jawab tersebut, Paslon 2 lebih menunjukkan sikap emasional, cenderung tidak menguasai pertanyaan dari Paslon 1.

“Poinnya adalah, Paslon 1 menampilkan sikap yang bijak, tenang, tidak emosional, tidak terburu-buru dalam menyampaikan pertanyaan dan pas, walaupun dalam menyampaikan pertanyaan itu memang kelihatan menyentuh pribadi salah satu Paslon 2, tetapi pertanyaan itu memang terkait visi dan misi Paslon 2 mengenai kejujuran. Dimana, mobil dinas yang dikuasai belum dikembalikan oleh salah satu Paslon 2,” jelasnya.

Menurut dia, dalam sesi tanya jawab itu, memang Hilarius Duha, menanyakan soal mobil dinas jenis Alphard dan Fortuner yang sampai saat ini masih dikuasai oleh Idealisman Dachi (Mantan Bupati), dan masih belum dikembalikan. Munculnya pertanyaan itu, membuat Idealisman Dachi, terlihat emosional karena menyentuh pribadinya.

“Ini kan pertanyaan sehat, tapi salah satu Paslon 2 cenderung menunjukkan sikap emosional seakan-akan tidak menerima. Jadi Paslon 2 ini, belum mampu mengendalikan diri,” sebutnya.

Di sisi lain, lanjut dia, beberapa kelemahan yang dilakukan oleh Paslon 2 pada debat itu, di antaranya memotong pembicaraan Paslon 1, menilai pertanyaan lawan yang seharusnya itu tugas dari seorang moderator. Selain itu, kerakter emosionalnya yang tidak mampu mengendalikan diri, seterusnya ada visi dan misinya yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan mematikan ke dia (Idealisman Dachi), karena dia juga pernah memimpin.

Dalam penyampaian program Paslon 2, Ia menilai tidak mecing (nyambung) antara penyampaian calon Bupati dengan calon Wakil Bupatinya. Misalnya, soal dalam visi dan misi Paslon 2 adanya pengadaan bibit sawit, akan tetapi program itu seakan-akan dibantah oleh calon Wakilnya dengan ditambahnya soal padi.

“Ini seakan-akan ada program yang muncul di tengah jalan. Harusnya tadi sebelum tampil itu harus di mecing gitu loh, sehingga masyarakat menilai orang ini satu atau jangan-jangan terpaksa saja karena kawinan politik,” pungkasnya.

Ia menilai bahwa Hilarius Duha, masih yang terbaik dalam memimpin Nias Selatan, dimana dalam pengelolaan keuangan Nias Selatan sebelum Hilarius menjadi Bupati Nisel selalu mendapat disclaimer dari BPK RI. Namun, pada kepemimpinan Hilarius Duha, mampu mengubah itu menjadi WDP (Wajar dengan pengecualian), dan terus mewujudkan sila ke 5 dari Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Dimana, hampir seluruh kecamatan di Nias Selatan menyentuh pembangunan, misalnya saja transportasi laut di Kepulauan dan beberapa pembagunan jalan di daratan Nias Selatan. Selain itu, Hilarius Duha juga mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat di masa pandemi ini dengan memprogramkan bibit ternak babi, program 1001 kolam ikan dan pembukaan lahan kepada petani,” pungkasnya.

Oleh itu, Ia mengajak masyarakat Nias Selatan untuk lebih bijak memilih pemimpin apalagi masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati di periode ini hanya 3 tahun. (Linipost/Red)


Comment

Related Post