by

Tidak Terima Bansos, Derman Baene Penderita Lumpuh Harapkan Perhatian Pemerintah

Nias Selatan, MimbarBangsa.co.id — Menyedihkan, seorang pria lumpuh bernama Derman Jaya Baene (38 Tahun) warga Dusun Silimaewali, Desa Sinar Baru Daro-daro, Kecamatan Lahusa, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Saat ditemui awak media di tempat kediamannya, bapak dua anak ini sedang terbaring lemah dan sudah tidak bisa beraktivitas lagi. Rabu (1/09/2021)

Derman Jaya Baene merupakan tulang punggung keluarga, mempunyai 2 orang anak. Anaknya laki-laki (10) masih duduk dibangku Sekolah Dasar di SD Negeri Sinar Baru, Kecamatan Lahusa dan anak perempuannya (11) di  Kelas I SMP Negeri 1 Lahusa.

Mirisnya, ayah dari dua orang anak ini mengaku tak pernah tersentuh Bantuan Sosial, baik dari Pemerintah Pusat maupun dari pemerintah Desa setempat.

Dalam perbincangan kami dengan beliau, dia mengharapkan adanya perhatian pemerintah baik dari Pemerintah Desa maupun dari Pemerintah Daerah Nias Selatan.

“Sejak mengalami kelumpuhan dari bulan April tahun 2019 sampai hari ini, belum pernah sekalipun tersentuh namanya bantuan Pemerintah baik dari Pemerintah desa Sinar Baru daro-daro, Pemerintah Kabupaten Nias Selatan dan Pemerintah Pusat. Saya berharap kiranya ada perhatian dari Pemerintah maupun dari para dermawan,” ucapnya.

Derman Jaya Baene mengalami kelumpuhan sebagian badan hingga tangannya. Hal ini bermula sejak bulan April 2019 akibat jatuh dari sepeda motor.

Hingga saat ini beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur, dan masih termasang kateter dan urine bag. Sesekali beliau duduk di kursi roda yang dibantu oleh sang istri.

Penderitaan Derman Jaya Baene tidak berakhir sampai disitu. Akibat kelamaan berbaring di tempat tidur, ia mengalami luka dekubitus di bagian bokongnya.

Yuliman Telaumbanua (35) istri dari Derman Jaya Baene menceritakan bahwa keluarga telah menempu berbagai upaya pengobatan. Pengobatan di rumah sakit maupun pengobatan alternatif. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil.

Untuk membantu perekonomian keluarga, Yuliman Telaumbanua berjualan pisang goreng.

Pengeluaran yang cukup besar selain kebutuhan keluarga, dia harus membeli kateter dan urine bag untuk sang suami.

” Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk pengobatan. Pengobatan di Rumah sakit maupun di pengobatan alternatif tatapi hasilnya tidak ada. Sejak suami saya sakit, saya memenuhi kebutuhan kami dengan berjualan pisang goreng. Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, saya juga harus membeli kateter dan urine bag kepada suami saya.” ucapnya.

Comment