by

Simpatisan Rizieq Dipaksa Menyingkir dari Gerbang Pengadilan

Jakarta, Mimbarbangsa.co.id Dua orang ibu-ibu yang mengaku sebagai bagian dari 86 kuasa hukum Rizieq Shihab dipaksa menyingkir dari sisi gerbang masuk Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

 


“Saya pengacara Habib Rizieq, ini [pengadilan] seperti rumah saya, ini rumah hukum,” kata Kurnia, salah seorang dari ibu-ibu yang mengaku sebagai kuasa hukum Rizieq Shihab tersebut, Senin (23/3).

 

“Bukan menonton, tapi mau sidang,” bantahnya.

Mulanya, Kurnia dan satu seorang perempuan lagi berdiri di sisi gerbang pengadilan. Mereka tidak bisa masuk karena gerbang pengadilan dijaga ketat puluhan aparat.

Aparat hanya mengizinkan orang yang hendak mendaftar atau melakukan persidangan dengan syarat mereka harus menunjukkan dokumen persidangan terlebih dahulu.

Sementara, orang-orang, termasuk wartawan, diminta menyingkir dari pintu gerbang dengan alasan menghindari terjadinya kerumunan.

Kurnia dan satu ibu lainnya tidak tampak menunjukkan dokumen apapun.

Mereka berdua mulai cekcok dengan aparat ketika pihak kepolisian melalui pengeras suara meminta Polwan untuk menggeser orang-orang yang tidak ada agenda persidangan.

“Polwan mana, itu yang tidak berkepentingan dorong. Yang tidak sedang berkepentingan halal digeser,” kata salah seorang polisi melalui pengeras suara.

Kurnia dan satu rekannya terus menolak. Ia mengatakan akan ada rekan lainnya yang sudah di dalam kompleks pengadilan keluar menjemputnya.

“Saya pengacara, saya nunggu di sini enggak masalah,” kata Kurnia menolak instruksi aparat.

Cekcok terus memanas. Kurnia mencecar Polwan yang ditugaskan untuk menggesernya tentang kerumunan yang ditimbulkan Presiden Joko Widodo di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Ibu berani dengan kerumunan Pak Jokowi?” tantang Kurnia ke arah Polwan yang bertugas.

Kedua ibu-ibu tersebut kemudian didorong menjauh dari pintu pengadilan. Keduanya berontak dan berteriak histeris.

Setelah keributan itu, salah satu ibu-ibu tersebut duduk di trotoar dekat gerbang PN Jakarta Timur dan melakukan pengiriman pesan suara (voice chat) dengan seseorang. Kepada lawan bertukar pesan suaranya, dia mengaku merasa diperlakukan seperti binatang.

Gua dicengkeram, didorong, gua bukan anjing,” kata ibu tersebut sambil menangis sesenggukan.

Sementara, polisi melalui mobil pengeras suara terus meminta agar tidak menimbulkan kerumunan.

“Tolong dijaga kesehatannya, jangan bergerombol ibu-ibu, jangan berkerumun,” kata polisi melalui pengeras suara.

 

Sumber: cnnindonesia.com

Comment

Related Post