by

Perjalanan Dinas ke Keerom, Papua: Dari Cemas Berubah Menjadi Cinta

-Opini-101 views

Mimbarbangsa.co.id – “Yu, kamu ke Keerom ya minggu depan!” Perkataan seniorku yang baru kukenal kurang lebih tiga bulan itu membuatku kaget.

“Nanti tiketnya bagaimana, Mbak? Dipesankan atau pesan sendiri?” responsku terhadap perkataannya.
“Ya, nanti kamu pesan sendiri,” jawabnya singkat.


Sebagai orang baru di kantor, aku hanya bisa pasrah. Aku berusaha menerimanya walaupun sebenarnya merasa khawatir juga untuk melaksanakan perjalanan dinas kali ini. Keerom, sebuah kabupaten di Provinsi Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Kabupaten tersebut masih jarang diketahui oleh banyak orang, terutama diriku.

Setelah pulang kantor, aku berusaha menyampaikan kepada ibuku bahwa minggu depan akan ditugaskan ke Keerom.

“Iya, silakan saja. Asalkan ada temannya. Ini kan perjalanan pertama kamu ke Papua, Yu. Kalau kamu sendirian, lebih baik kamu tidak usah pergi!”

Begitu tanggapan ibuku setelah aku beritahu. Aku semakin merasa cemas karena ketika seniorku memberitahukan itu, dia belum menyampaikan siapa yang menjadi teman seperjalananku nanti.

Pelan-pelan, aku akhirnya tahu harus pergi bersama dengan atasanku. Bukan main-main, atasan perempuan yang terkenal sulit ditaklukkan karena banyak sekali kemauannya. Beberapa hari menjelang keberangkatan, aku sempat mengirimkan pesan singkat kepada beliau untuk menanyakan waktu keberangkatan pesawat yang hendak dipilihnya. Beliau menjawab pesanku dan akhirnya aku memesan tiket pesawat yang jadwalnya sesuai dengan kemauannya.

Kurang dari tiga hari menuju keberangkatan, ada perubahan yang tak terduga. Atasanku itu tidak mau apabila harus pergi ke Keerom. Aku bersyukur karena bebanku menjadi berkurang. Namun, aku jadi semakin khawatir kalau harus berangkat ke Papua untuk pertama kalinya sendirian. Aku menyampaikan kepada senior yang menyuruhku pergi. Apabila aku pergi sendirian, ibuku tidak akan mengizinkan. Singkat cerita, aku mengajukan seorang pegawai honorer yang sudah cukup kukenal untuk menemaniku pergi. Alhamdulillah, usulanku diterima di hari kedua menjelang keberangkatan. Dengan cepat, aku langsung memesan tiket pesawat dan meminta agen perjalanannya untuk langsung mengissued tiket itu.

Seniorku memintaku untuk menghubungi fasilitator dari Jakarta yang sudah lebih dahulu sampai di Papua. Namanya Pak James. Dalam percakapan singkat melalui telepon dengan beliau, aku sedikit merasa lega.

“Ayu, kapan kamu berangkat?”
“Hari Rabu malam, Pak!”
“Baik, berarti sampai hari Kamis pagi ya. Tolong usahakan jangan ada bagasi sehingga kamu bisa keluar cepat dari Bandara Sentani. Karena jam delapan pagi kita akan sama-sama pergi ke sekolah di Keerom. Dari bandara, langsung naik taksi saja. Ditunggu di hotel ya!”

Baca juga :  Puluhan Warga Pendatang Minta Dievakuasi dari Beoga Papua

Menjelang keberangkatan, aku juga menghadap kepala seksiku untuk berpamitan. Beliau berpesan untuk hati-hati di jalan dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Pesan beliau itu sangat berharga karena ketika berada di Keerom nanti aku bukan hanya membawa namaku sendiri, tetapi juga nama instansi tempatku berdinas.

Perjalanan menuju Papua dimulai. Aku diantar ke bandara oleh ibu dan kakak tertuaku. Mereka hanya mengantarku hingga pintu masuk menuju pemeriksaan bagasi. Setelah itu, aku langsung bertemu dengan rekan seperjalananku. Selama menunggu keberangkatan, rekanku bercerita sudah pernah ke Papua sebelumnya. Tepatnya ke Merauke. Aku bersyukur kembali karena telah mendapat rekan yang sudah cukup memahami situasi Papua.

Menjelang pukul 23.00, aku dan rekanku naik ke pesawat. Ketika itu, penumpangnya penuh sehingga terpaksa koper yang kubawa harus diletakkan di bagasi bawah pesawat. Wah, gawat! Aku tidak melaksanakan pesan fasilitator untuk tidak meletakkan barang di bagasi. Aku tetap berusaha tenang. Semoga koperku ini tidak menghambat rencana perjalanan besok pagi…

Akhirnya, pesawat berhasil lepas landas dengan sempurna dari Jakarta. Pramugari memberikan selimut dan mematikan lampu di pesawat agar semua penumpang bisa tidur. Malangnya, aku tidak bisa tidur sama sekali. Berusaha untuk memejamkan mata, namun tidak bisa tertidur lelap. Aku berkali-kali melihat layar di depanku yang menunjukkan jam dan posisi pesawat. Aku juga merasakan turbulensi yang sungguh mendebarkan.

Menjelang pukul setengah enam pagi, aku menunaikan salat subuh di pesawat. Ini pertama kalinya aku salat subuh di atas ketinggian berpuluh ribu kaki. Tidak berapa lama, pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Sentani. Aku langsung menelepon Pak Rahmat, fasilitator yang lain.

“Pak Rahmat, Alhamdulillah kami sudah mendarat!”
“Wah, hebat! Segera ya, kami tunggu di hotel Abepura. Nanti silakan bersih-bersih dulu dan sarapan setelah sampai.”

Aku dan rekanku perlahan-lahan turun dari pesawat. Tak lupa, mengambil koperku yang harus disimpan di bagasi bawah pesawat. Ternyata, kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Setelah mengambil koper, kami bergegas untuk mencari taksi. Saat berada di taksi, kami berbincang akrab dengan sopir yang ternyata berasal dari Makassar. Mengetahui aku baru pertama kali pergi ke Papua, beliau berpesan satu hal kepadaku. Apabila nanti berada di sekolah dan menemukan anjng, bersikaplah biasa saja. Jangan berlebihan karena itu akan menyinggung perasaan orang Papua.

Setelah sampai di hotel, aku dan rekanku bersih-bersih sejenak dan sarapan. Setelah itu, kami bersama para fasilitator langsung menuju ke Keerom. Aku bersyukur karena tidak merasakan mual atau pusing ketika itu. Pasalnya, aku tidak bisa tidur sama sekali dan pagi ini harus langsung menuju ke sebuah SMP Satu Atap (SMP SATAP) yang terletak di Distrik Waris.

Aku memilih untuk tidak tidur karena tertarik dengan pemandangan sepanjang perjalanan dari Abepura ke Distrik Waris. Ya, yang ditemui memang hanya pepohonan, sungai, jembatan serta tikungan dan tanjakan berliku. Namun, aku merasa senang karena bisa menghirup udara segar yang masuk dari kaca jendela Mitsubishi Strada yang memang sengaja tidak ditutup. Ini tidak akan pernah ada di Jakarta!

Perjalanan Abepura-Distrik Waris yang lamanya tiga setengah jam nyaris sia-sia. Beruntungnya, Pak Abel, sopir kami yang asli Papua, memacu cepat Mitsubishi Stradanya di Jalan Trans Papua. Kalau tidak, gagal tujuan kami untuk bertemu dengan Bu Yus, Kepala SMP SATAP Bompay, Distrik Waris.

Pak Rahmat ingin bertemu Bu Yus untuk melakukan wawancara mengenai jalannya pengawasan di sekolahnya. Dari wawancara itu, kami belajar bagaimana semangat Bu Yus untuk memimpin sekolahnya. Walaupun tidak ada sinyal, kegiatan belajar mengajar terus berjalan. Gangguan orang-orang mabuk di sekitar sekolahnya memang meresahkan, namun tak membuat kegiatan sekolah terhenti begitu saja. “Yang penting, saya sudah berusaha mengantarkan mereka lulus dari bangku SMP,” ujar Ibu Yus mantap.

Sepulang dari sekolah, Pak Rahmat meminta Pak Abel untuk ‘pulang tempo’. Maksudnya, jalannya pelan-pelan saja. Tidak usah terburu-buru untuk kembali ke Abepura. Di perjalanan pulang, Pak Abel mengajak anak-anak yang baru pulang sekolah untuk naik di bak mobilnya agar lebih cepat sampai di rumah. Anak-anak asyik bercengkrama, sedangkan kami asyik mengobrol di dalam mobil.

Keesokan harinya, tepatnya di hari Jumat, kami mengunjungi SMPN 7 Yetti yang terletak di Distrik Arso Timur, berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Abepura. Untuk menuju sekolah ini, kami harus melewati jalan kecil yang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Jalan yang dilalui memang belum mulus namun dapat dilewati oleh mobil dan motor.

Sesampainya di sana, kami disambut oleh tarian khas Papua yang dipersembahkan oleh anak-anak SMPN 7 Yetti. Kemudian, fasilitator dipersilakan untuk memberikan pengarahan kepada anak-anak dan mengobservasi pengajaran di kelas. Selain itu, juga diadakan diskusi dengan pengawas sekolah di Kabupaten Keerom. Diskusi tersebut dihadiri oleh Kasi Kurikulum dan Kasi GTK Dinas Pendidikan Kabupaten Keerom serta beberapa kepala sekolah daerah khusus yang ada di Kabupaten Keerom. Diskusi dimoderatori oleh fasilitator dan diisi dengan paparan dari Kasubdit pada Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan, Dr. Abubakar Umar, M.Pd. Dalam paparannya, Pak Abubakar berusaha memotivasi pengawas dan kepala sekolah agar terus bersemangat mengabdi untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Kabupaten Keerom. Pengawas dan kepala sekolah antusias dalam mengikuti diskusi tersebut.

Ketika berada di sekolah ini, aku merasa bangga dengan semangat anak-anak yang menunjukkan kebolehan mereka dalam menanam buah naga. Walaupun ternyata di antara mereka masih ada yang kesulitan membaca dan menulis, semangat mereka sangat baik untuk mempelajari hal-hal yang bersifat praktik. Selain itu, aku juga tersentuh dengan sebuah permintaan dari seorang fasilitator, yaitu Ibu Tiwi.

“Ayu, masih ada kan sisa uang transport yang dibawa dari Jakarta?”
“Iya, masih ada.”
“Mohon maaf Yu, saya minta ada kepala sekolah yang juga diberikan uang transport. Nama beliau memang tidak ada dalam undangan kita, namun beliau sudah mau hadir jauh-jauh ke sini.”

Baca juga :  TNI Kerahkan 400 Pasukan Setan ke Papua Tangani KKB

Dengan hati yang penuh rasa iba, aku memberikan uang transport itu. Jumlahnya tidak besar. Hanya Rp150,000. Namun, uang itu bisa jadi sangat berharga untuk kepala sekolah yang hidup serba terbatas di Keerom ini.

Sehari sebelum pulang ke Jakarta, aku dan rekanku diajak berjalan-jalan ke Skouw oleh Pak James, fasilitator yang sudah belasan kali pergi ke Papua. Di Skouw, ada pos lintas batas antara Indonesia dan Papua Nugini. Aku bersyukur karena bisa menjejakkan kaki di sana. Setelah ke Skouw, kami diajak makan ikan bakar dan tumis pepaya di Jayapura. Walaupun sebentar, aku bisa merasakan atmosfer Jayapura, sebuah kota pelabuhan yang katanya sangat cantik di malam hari.

Setelah diberikan kesempatan untuk langsung pergi ke Papua, aku melihat banyak sekali potensi terpendam yang ada di sana, namun belum dioptimalkan oleh orang Papua sendiri. Apabila potensi terpendam itu dioptimalkan pemanfaatannya, Papua akan menjadi daerah yang makmur.

Baca juga :  Mahasiswa Papua Demo Kantor Tito Tolak Perpanjangan Otsus

Perlu upaya yang nyata, terutama dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, agar Papua bisa menjadi daerah yang maju dan berkembang. Masyarakat dari pulau lain di Indonesia sebaiknya berkunjung ke sana untuk mengenal langsung Papua, baik masyarakatnya maupun budayanya.

Rasa cemas sebelum menuju Papua kini telah berganti menjadi rasa cinta. Cinta terhadap Papua dengan segala kondisinya yang ada. Aku Indonesia, Aku Cinta Papua!

 




Comment