by

Perang Sampit, Malapetaka Bermula Dari Kebijakan Belanda Yang Dibiarkan Pemerintah


Kalimantan Tengah, Mimbar Bangsa Pemerintah Belanda di era kolonial lalu pernah melakukan kebijakan transmigrasi. Salah satunya adalah transmigrasi pada tahun 1930, Warga Madura dipindahkan ke Kalimantan Tengah.

Paska merdeka, jumlah orang Madura di daerah itu makin banyak. Lebih dari itu, mereka juga mendominasi dunia ekonomi. Warga Madura telah berhasil menguasai banyak bidang perekonomian dan industri komersial seperti perkayuan, penambangan dan perkebunan.

Suku Madura yang berperawakan keras beberapa diantaranya mulai menekan suku Dayak kala itu. Baik dari segi pekerjaan dan pemerasan, pepohonan dan hutan suku dayak ditebang, dibuka demi kepentingan bisnis dan dibangun bangunan oleh para pendatang.

Lambat laun, jumlah suku Madura yang berada di tanah Kalimantam bertambah pesat. Bahkan jajaran dewan dan pimpinan kota saat itu umumnya memiliki darah keturunan Madura. Dominasi Madura mulai terasa setelah beberapa hukuman dinilai selalu menguntungkan pihak suku Madura.

Dengan kata lain, para pendatang telah berhasil mengalahkan pribumi. Pemerintah Indonesia saat itu tampaknya membiarkan hal itu terjadi, sebelum akhirnya hal itu berujung malapetaka.

Hal ini terus berlangsung selama beberapa tahun, sampai akhirnya warga pribumi sadar mereka sudah terusik. Mereka merasa sudah terlalu banyak diam, dan akhirnya melawan.

Banyak versi yang beredar mengenai pemicu sejarah perang Sampit tahun 2001. Salah satunya konon disebabkan oleh pembakaran sebuah rumah warga Dayak yang disebabkan oleh warga Madura dan memicu sejumlah anggota suku Dayak membalas membakar rumah – rumah warga Madura.

Versi lain yang dikemukakan oleh Prof. Usop dari Asosiasi Masyarakat Dayak bahwa suku Dayak mempertahankan diri setelah beberapa anggotanya diserang. Lalu ada versi bahwa seorang warga Dayak dibunuh setelah disiksa sekelompok warga Madura akibat sengketa judi di desa Kerengpangi pada 17 Desember 2001.

Sekelompok warga Dayak kemudian menyerang rumah warga Madura yang bernama Matayo untuk balas dendam atas kejadian di Kerengpangi keesokan harinya dan menewaskan empat penghuni rumah. Serangan itu juga memicu keinginan balas dendam dari sekelompok warga Madura lainnya.

Mereka mendatangi rumah seorang warga Dayak bernama Timil yang konon menyembunyikan salah seorang pelaku penyerangan. Timil berhasil diamankan oleh polisi, namun warga Madura membakar rumahnya dan juga rumah kerabatnya, mengakibatkan penghuninya tewas.

Peristiwa inilah yang banyak dijadikan acuan mengenai penyebab konflik lebih besar antara etnis Dayak dan Madura dalam sejarah perang Sampit. Warga Madura berhasil bertahan selama dua hari sejak penyerangan ke rumah Matayo, mereka bahkan berani menyisir pemukiman – pemukiman warga Dayak karena merasa sedang diatas angin.

Pada 20 Februari 2001 situasi berbalik arah dengan kedatangan sejumlah besar orang Dayak dari luar kota ke Sampit. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Richi Andika Marry dalam skripsinya, warga Dayak menggunakan berbagai jenis senjata tradisional seperti Mandau, lunju atau tombak, sumpit, senjata api yang disebut dum – dum seperti pahlawan nasional dari Madura, tetapi ada juga yang menggunakan celurit dan sejumlah bom rakitan.

Selama terjadinya sejarah perang Sampit, diperkirakan sekira 500 hingga hampir 1500 orang tewas versi Garry van Klinken, dan ribuan hingga ratusan ribu orang Madura yang selamat terpaksa mengungsi keluar dari Sampit.

Kerusuhan bahkan meluas hingga Kualakayan yang jaraknya sekitar 100 km di sebelah utara Sampit dan ke Palangkaraya.

Pembersihan etnis yang dilakukan oleh warga Dayak terus berlanjut selama beberapa minggu ke seluruh Kalimantan Tengah hingga ke wilayah ujung jalan raya Trans Kalimantan bahkan hingga ke Kuala Kapuas di sebelah Tenggara, bahkan hingga ke Pangkalan Bun di sebelah Barat.

Besarnya jumlah korban tewas yang terjadi dalam sejarah perang Sampit terjadi karena suku Dayak dalam puncak kemurkaannya mempraktekkan ritual perburuan kepala (Ngayau atau Kayau). Ritual ini sebenarnya sudah dihentikan melalui perjanjian Tumbang Anoy pada tahun 1884.

Konon ketika pemenggalan kepala itu terjadi sebelumnya didahului dengan ritual adat yang membuat pelakunya berada di alam bawah sadar. Mereka diberikan ilmu yang membuatnya dapat membedakan mana etnis Madura dan yang bukan untuk menentukan sasarannya.

Warga Madura di sana tak bisa berbuat apa-apa. Semua yang berasal dari Madura dibantai. Uniknya, orang Dayak bisa mengenal orang Madura hanya dari bau badan.

Katanya, bagi orang Dayak, mereka bau Sapi.

Sumber: sumber. com


Penulis / Publisher: adminMBC

Gravatar Image
Pusat Berita Online Terpercaya

Comment