by

Pakar: RI Punya Kemampuan Deteksi Corona, Tapi Tidak Merata


Jakarta, Mimbar Bangsa – Pakar virus dari Lembaga Eijkman, Herawati Sudoyo mengatakan, Indonesia memiliki kemampuan untuk mendeteksi virus corona (covid-19), namun tidak merata.

“Apa Indonesia punya kemampuan deteksi? Jawabannya tegas iya. Apa merata di setiap lembaga penelitian? Jawabannya tidak,” kata Herawati dalam diskusi bertajuk “Corona, Kita Imun atau Melamun” di Jakarta, Minggu (2/3/2020)..

Herawati menuturkan, suatu penyakit akan diketahui dengan mudah dari besaran orang yang diperiksa. Menurut Herawati, Indonesia perlu melakukan pemeriksaan terhadap lebih banyak orang. “Kalau kita lakukan jauh lebih banyak yang ditarget mungkin dapat kasus itu (covid-19). Bukan kita ingin positif, tapi buat kita lebih bersiap diri,” tegas Herawati

Dalam kesempatan yang sama anggota Komisi VIII DPR, Bukhari Yusuf mengatakan seluruh pihak berharap Indonesia tetap bebas dari corona. “Harapan kami tidak berharap virus ini ada. Kita berdoa. Perilaku cara kehidupan masyarakat kita relatif bersih. Saya bersyukur kalau teman-teman di Komisi I bentuk panja,” kata Bukhari.

Bukhari menambahkan Kementerian Kesehatan juga telah merilis Indonesia memang masih nol kasus covid-19. Hanya saja, menurut Bukhari, secara global 64 negara yang telah menyampaikan adanya covid-19.

“Tingkat kematian akibat covid-19 tidak sekeras flu burung dan flu babi, tapi penyebarannya cepat. Pemerintah harus lebih cermat, hati-hati, dan transparan ke publik. Kalau memang tidak ada katakan saja. Sosialisasikam secara masif, tepat, dan transparan,” ucap Bukhari.

Sementara Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, Alexius Jemadu menyatakan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah melansir bahaya covid-19. Artinya mengharuskan setiap negara memberikan respons optimal.

“Tidak ada kasus saja kita sudah dipertanyakan kemampuan menangani, apalagi kalau ada masalah. Jadi dunia internasional menilai seluruh langkah yang kita lakukan belum sesuai standar,” kata Alexius.

Alexius menambahkan, setiap negara mempunyai perwakilan di Indonesia. Dalam situasi kegentingan, lanjut Alexius, laporan diberikan oleh perwakilan itu secara harian.

“Berdasar laporan itu muncul keraguan internasional. Cara kita menjelaskan ke dunia internasional juga jangam sampai reaksioner menunggu, tapi harus mendahului. Karena pemberitaan internasional sulit dikontrol,” ujar Alexius.

Sumber: BeritaSatu .com

Comment

Related Post