by

Miss Papua Nugini Kehilangan Mahkota Usai Posting di TikTok

-DUNIA-94 views

Jakarta, Mimbarbangsa.co.id — Miss Papua Nugini Lucy Maino harus melepas mahkotanya setelah dia mengunggah video menari twerking di TikTok.

Video itu diunggah Maino ke platform media sosial dan YouTube. Ribuan komentar netizen pun membanjiri postingan tersebut


Gadis 25 tahun yang juga wakil kapten tim sepak bola wanita Papua Nugini itu menghadapi pelecehan online setelah membagikan video dirinya twerking di aplikasi TikTok.

Meski video twerking dianggap hal biasa, namun aksi Maino dihujani kritik. Hal itu dianggap tak pantas untuk seorang yang dijadikan “panutan”.

Setelah muncul reaksi negatif, Maino “dibebastugaskan” oleh penyelenggara Miss Pacific Island Pageant PNG (MPIP PNG) pekan ini.

“Tujuan utama kami adalah pemberdayaan perempuan. Kami adalah program kontes unik yang mempromosikan warisan budaya, nilai-nilai tradisional dan berbagi melalui pariwisata tentang negara dan masyarakat,” kata panitia dalam sebuah pernyataan, mengutip dari The Guardian pada Kamis (8/4).

Baca juga :  Bangga! Tempe Jadi Favorit Warga Papua Nugini

MPIP PG, lanjut pernyataan itu, mempromosikan nilai-nilai kepercayaan, harga diri, integritas dan layanan, masyarakat dengan fokus jangka panjang pada pendidikan.

Para kritikus menilai insiden itu sebagai budaya misogini yang mengakar di negara tersebut.

Gubernur East Sepik, yang juga salah satu ketua Koalisi Parlemen Menentang Kekerasan berbasis Gender, Allan Bird mengecam pelecehan online terhadap Maino.

“Masyarakat macam apa yang mengutuk penyiksaan dan pembunuhan perempuan namun membuat kesal ketika seorang perempuan muda membuat video dansa?” tulisnya dalam media sosial.

Seorang mantan Miss PNG mengatakan kejadian itu menunjukkan misogini.

Baca juga :  Bangga! Tempe Jadi Favorit Warga Papua Nugini

“Saya yakin, jika seorang tokoh laki-laki membuat

TikTok, kami semua akan tertawa atau bahkan memujinya,” ucap dia.

Banyak orang mengkritik panitia karena tidak mendukung Maino setelah dia diserang karena video tersebut.

Seorang advokat perempuan mengatakan panitia seharusnya lebih jeli melihat kasus tersebut.

“Panitia seharusnya dapat menanganinya dengan lebih baik dengan terlebih dahulu menguraikan klausul yang dia langgar sebagai ratu. Saya merasa bahwa mereka membungkamnya dan tidak memberi kesempatan untuk keluar dan berbicara. Bukan itu cara untuk mengatasinya. ”

Perserikatan Bangsa-Bangsa di Papua Nugini mengungkapkan ketidakpuasan mereka melalui pernyataan di Facebook.

“Kami melihat kehancuran akibat kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di negara yang indah ini. Beberapa karena penindasan yang berakibat hilangnya nyawa mereka. Ini dimulai dengan memberi tahu perempuan bahwa mereka harus menutupi. Dimulai dengan memberi tahu perempuan, mereka tidak boleh menari seperti itu. ”

Baca juga :  Bangga! Tempe Jadi Favorit Warga Papua Nugini

Baik Maino maupun komite MPIP PNG belum memberi tanggapan atas masalah ini.

Maino merupakan penerima beasiswa sepak bola yang memungkinkan ia menyelesaikan gelar administrasi bisnis di Universitas Hawaii.

Dia mewakili Papua Nugini sebagai wakil kapten tim nasional pada tahun 2019, dan menyabet dua medali emas di Pacific Games 2019 di Apia, Samoa.

Maino dinobatkan sebagai Miss Papua Nugini pada tahun 2019. Dia terus menjalankan tugasnya sebagaimana misi MPIP bahkan bertambah satu tahun lantaran pandemi Covid-19.




Comment