by

Masyarakat Tidak Perlu Khawatir, Vaksin Sinovac Aman dan Efektif

Jakarta, Mimbar Bangsa – Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemkes sekaligus Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksin Covid-19, dr Siti Nadia Tarmidzi menegaskan vaksin Sinovac tidak lebih jelek dari vaksin lain lantaran efikasinya lebih rendah. Karena itu masyarakat tidak perlu khawatir untuk divaksinasi dengan vaksin Sinovac.

“Vaksin ini memiliki efikasi 65,3%, yang artinya menurunkan risiko terinfeksi hingga 65,3%. Ini sudah memenuhi kriteria WHO dan kita tidak mau menunggu sampai kematian dan kesakitan semakin bertambah,” kata Nadia kepada Suara Pembaruan, Jumat (15/1/2021) malam.

Vaksinolog sekaligus Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Dirga Sakti Rambe mengatakan, vaksin Sinovac sudah mendapat izin penggunaan dalam kondisi darurat atau emergency use authorization (EUA) dari BPOM. Untuk mendapatkan EUA melalui proses panjang dan tidak lahir begitu saja melainkan berdasarkan kajian ilmiah. Sehingga konsekuensinya adalah vaksin Sinovac dipastikan aman dan efektif.

“Jadi tidak perlu lagi ada keraguan soal keamanan dan efektifitasnya.

Menurut Dirga, uji klinis fase 3 di Bandung membuktikan efikasi Coronavac ini adalah 65,3%. Artinya orang divaksinasi memiliki risiko hampir 3 kali lebih rendah untuk mengalami Covid-19 yang bergejala, dibandingkan orang yang tidak divaksinasi. Risiko untuk mengalami kematian bahkan lebih rendah lagi.

Sayangnya, menurut Dirga, 65,3% ini dipersepsikan sebagai angka yang rendah sehingga sebagian pihak bahkan membandingkan efikasi vaksin Sinovac dengan vaksin lain.

“Itu cara berpikir yang tidak tepat. Karena efikasi 65,3% artinya memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami Covid-19. Tiga kali dalam masa pandemi seperti saat ini, itu amat bermakna baik untuk perlindungan pribadi maupun kesehatan masyarakat,” kata Dirga pada dialog interaktif “Kolaborasi Dukung Vaksinasi Covid-19”, Jumat (15/1/2021).

Apakah vaksin dengan efikasi mencapai 80% hingga 90% pasti lebih baik dari yang efikasinya 65%, menurut Dirga jawabannya tidak. Angka-angka tersebut lahir dari uji klinis, di mana dalam setiap uji klinis punya desain dan protokol penelitian berbeda.

“Jadi kita tidak bisa mengatakan vaksin dengan efikasi 90% lebih baik dari vaksin 65%, kalau tidak dilakukan head to head study. Ini mesti diadu dulu,” kata Dirga.

Oleh karena itu, menurut Dirga, pergunakan dulu vaksin yang tersedia selama masa pandemi ini. Apalagi MUI sendiri sudah mengatakan bahwa vaksin Sinovac ini suci, halal, dan thoyyib.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng Faqih juga mengimbau masyarakat agar kepercayaan terhadap vaksin tidak berdasarkan merek atau basis negara, tapi harus berdasarkan aspek ilmiah.

“Jadi vaksin tersebut sudah dijamin keamanan dan efektivitasnya dari mana pun asal dan mereknya,” kata Daeng baru baru ini.

 

 

 

 

 

 

Sumber: Suara Pembaruan

Comment