by

KPK Tindaklanjuti Rumor Harun Masiku Berada di Indonesia


Jakarta, Mimbar Bangsa  – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal menindaklanjuti informasi yang belum terkonfirmasi yang menyebut caleg PDIP, Harun Masiku telah berada di Indonesia. Diketahui, Harun Masiku telah ditetapkan KPK sebagai tersangka pemberi suap mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan terkait proses PAW anggota DPR. Namun, sejak ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis (9/1/2020) hingga saat ini Harun masih buron.

Ditjen Imigrasi menyebut Harun telah meninggalkan Indonesia menuju Singapura menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT yang membekuk Wahyu dan sejumlah pihak lain pada Rabu (8/1/2020). Namun, terdapat informasi yang menyebut Harun telah kembali ke Indonesia pada Selasa (7/1/2020).

“Mungkin Senin akan dibahas (soal informasi keberadaan Harun di Indonesia),” kata Wakil Ketua KPK, Lili Pintauli Siregar saat dikonformasi, Minggu (19/1/2020).

Kaburnya Harun disebut untuk menutup pengembangan penyidikan yang dilakukan KPK. Termasuk menjerat pihak-pihak lain yang terlibat dalam kasus ini.

Namun, Lili memastikan tim penyidik bakal terus melanjutkan kasus ini hingga tuntas dan terang benderang. Lili optimistis dengan bukti-bukti yang dimiliki penyidik dengan menjerat Harun, Wahyu, serta Kader PDIP, Saeful dan mantan Anggota Bawaslu yang juga mantan caleg PDIP Agustiani Tio Fridelia tersebut.

“Kan kasus terus berkembang dari hasil keterangan saksi-saksi tunggu saja lah kan belum berakhir penyidikannya,” kata Lili.

Selain melengkapi berkas penyidikan empat orang tersangka, KPK juga akan terus mengembangkan kasus itu. Apalagi sejauh ini KPK telah mendeteksi siapa saja pihak lain yang diduga juga terlibat kasus tersebut.

“Bisa diikuti hari-hari berikutnya KPK kan terbuka untuk itu,” kata Lili.

Hal senada sebelumnya dikatakan Plt Jubir KPK Ali Fikri. Ali memastikan tim penyidik bakal terus mengusut dan mengembangkan kasus dugaan suap proses PAW, meskipun, hingga saat ini, KPK belum juga berhasil menangkap Harun Masiku.

“Kita tetap bekerja menyelesaikan perkara itu,” kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Ali menyatakan, tim penyidik telah mengantongi bukti permulaan yang cukup untuk mengusut dan mengembangkan kasus ini. Apalagi, tim penyidik telah mengumpulkan bukti-bukti baru dari penggeledahan dan penyitaan di sejumlah lokasi beberapa waktu yang lalu. Bukti-bukti tersebut nantinya akan didalami melalui pemeriksaan para saksi dan tersangka.
“Bisa (dikembangkan). Kami yakin itu bisa dilakukan karena kami cukup mengantongi dari bukti permulaan cukup itu bisa kami kembangkan lebih jauh ketika nanti saksi-saksi yang dihadirkan yang kemudian mengonfirmasi dokumen-dokumen itu. Kami yakin bisa selesai,” katanya.

Di sisi lain, Ali Fikri memastikan, KPK masih terus memburu Harun Masiku yang disebut Ditjen Imigrasi kabur ke Singapura pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT terhadap Wahyu dan tujuh orang lainnya. Ali menyatakan, KPK terus berkoordinasi dengan Kepolisian dan instansi terkait untuk melacak keberadaan Harun. KPK juga mempertimbangkan informasi-informasi yang beredar yang menyebut Harun telah kembali ke Indonesia pada 7 Januari 2020 atau sehari sebelum OTT KPK dilancarkan.

“Kami terus berkoordinasi dan mencari keberadaan tersangka HAR (Harun Masiku) dan berkoordinasi dengan polisi. Adapun informasi yang kami terima soal yang bersangkutan di dalam negeri, informasi itu sangat bermanfaat bagi kami dan tentunya kami pedoman keterangan imigrasi yang bersangkutan ada di luar negeri belum ada catatan yang bersangkutan kembali ke dalam negeri,” katanya.

KPK kembali mengultimatum Harun untuk menyerahkan diri. Ali menyatakan, sikap tidak koperatif merugikan Harun sendiri karena tidak dapat membela diri atas kasus yang menjeratnya.

“Kami imbau kepada yang bersangkutan menyerahkan diri tentunya selain merugikan diri sendiri karena tidak bisa terangkan secara utuh dan lengkap yang disangkakan, tentunya nanti di sidang dapat dipertimbangkan sebagai orang yang tidak koperatif,” katanya.

KPK menetapkan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan; caleg PDIP, Harun Masiku; mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina dan seorang swasta bernama Saeful sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait PAW anggota DPR. Wahyu dan Agustiani diduga menerima suap dari Harun dan Saeful dengan total sekitar Rp 900 juta. Suap itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Tiga dari empat tersangka kasus ini telah mendekam di sel tahanan. Sementara, tersangka Harun Masiku masih buron hingga kini.

Ditjen Imigrasi menyebut Harun telah meninggalkan Indonesia menuju Singapura menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT yang membekuk Wahyu dan sejumlah pihak lain pada Rabu (8/1/2020). Namun, terdapat informasi yang menyebut harun telah kembali ke Indonesia pada Selasa (7/1/2020).

Sumber: Suara Pembaruan

Comment