by

Kenyataan di Balik Cerita Air Terjun Lawu-Lawu dan Desa Sisobaoho

Nias Barat, Mimbarbangsa.co.id- Pelaksanaan kegiatan launching objek Wisata Air Terjun Lawu-Lawu pada Tanggal 09 April 2021 yang lalu di Desa Sisaoboho Kecamatan Mandrehe Barat Kabupaten Nias Barat merupakan tindak lanjut dari Pemerintah atas permintaan masyarakat Desa untuk ditetapkan sebagai Wisata.

Bermula dari usulan Pemerintah Desa yang menyampaikan permohonan agar ditetapkan sebagai Desa Wisata yang disertai dengan hasil rapat Desa dan SK kelompok sadar Wisata yang sudah dibentuk.


Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nias Barat Elfira Hotmulani melakukan peninjauan dan bertemu dengan Kepala Desa, tokoh masyarakat dan sejumlah warga.

Aparat Desa menyampaikan bahwa Desa Sisaoboho memiliki 5 air terjun dan sebuah bukit yang diberi nama bukit golgota yang bisa dimanfaatkan menjadi Objek Wisata.

Selanjutnya tokoh masyarakat yang ada pada saat itu, berharap Desa Sisobaoho menjadi salah satu Desa Wisata yang memiliki kesempatan untuk berkembang dan diperhatikan oleh Pemerintah. Selain itu, juga terbuka kesempatan bagi masyarakat Desa untuk membuka usaha-usaha yg akan menjadi sumber mata pencarian warga.

Setelah melihat potensi Objek Wisata tersebut, Disparbud Nias Barat mengundang Aparat Desa Sisobaoho untuk menyepakati pemahaman-pemahaman terkait pengembangan sebuah Desa Wisata dan langkah-langkah apa yang harus ditempuh serta syarat-syaratnya.

Kurang lebih seminggu setelah dilakukan pembahasan, masyarakat Desa Sisobaoho melakukan kerja bakti bersama untuk membersihkan air terjun Lawu-Lawu.

Melihat peran masyarakat yang sangat aktif melakukan gotongroyong membersihakan lingkungan Air Terjun Lawu-Lawu. Disparbud Nias Barat merasa terbeban dan berupaya mengambil peran untuk melakukan apa yg bisa dilakukan dalam mendukung semangat masyarakat agar Air Terjun Lawu-Lawu menjadi objek Wisata.

Dengan semangat gotongroyong, masyarakat Desa Sisobaoho terus melakukan pembenahan di air terjun Lawu-Lawu dengan membuat 100 anak tangga dan pembersihan Objek Wisata lainnya dibeberapa tempat berbeda. Seperti Objek Wisata bukit golgota dan air terjun BahoBalugu.

Pada saat itu dilaksanakan rapat bersama Kades, Aparat Desa dan tokoh-tokoh masyarakat serta sejumlah warga guna memberikan sosialisasi tentang Desa Wisata serta pendampingannya.

Melihat antusias serta kekompakan masyarakat Desa Sisobaoho, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Nias Barat melaporkan hasil survei tersebut kepada Bupati Nias Barat untuk ditindaklanjuti.

Dengan petunjuk Bupati, Tanggal 23/03/2021 rapat dilaksanakan di Kantor Disparbud Nias Barat bersama Kepala Desa Sisobaoho sebagai pemohon, didampingi BPD, pokdarwis dan turut dihadiri oleh Camat Mandrehe dengan agenda pelaksanaan penetapan Desa Sisobaoho sebagai Desa Wisata.

Saat itu, Bupati menyampaikan bahwa potensi pariwisata bisa menjadi peluang yg baik bagi masyarakat untuk meningkatkan perekonomian.

Menyambut hal tersebut, Kades meyampaikan permohonan. Jika berkenan, penyerahan SK Desa Wisata dilaksanakan di Desa bersangkutan, sebagai sebuah momentum yang baik untuk memperkenalkan Desa tersebut sebagai tujuan Wisata yang bisa dikunjungi.

Setelah kurang lebih 4 hari pelaksanaan Launching, muncul pemberitaan yang menjadi viral terkait pernyataan tokoh masyarakat dan warga bahwa air terjun Lawu-Lawu merupakan saluran pembuangan.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nias Barat menyampaikan sangat amat disayangkan tentang pernyataan-pernyataan tersebut yang di unggah di media sosial (Facebook) bahkan dibeberapa Media Online. Dimana akhirnya memberikan dampak buruk bagi objek wisata Air Terjun Lawu-Lawu dan juga nama Desa Sisaoboho.

“Sangat disayangkan sekali mengenai pemberitaan yang viral akhir-akhir ini di Facebook dan juga di beberapa Media Online terkait pernyataan salah seorang oknum tokoh dan beberapa warga Desa Sisobaoho yang menuding bahwa air terjun tersebut merupakan saluran pembuangan. Padahal sebelum penetapan, Pemdes bersama warga telah berdialog bersama dan melakukan peninjauan lokasi air terjun yang dimaksud”. “Ungkap Elfira”.

Katanya, mengapa pemberi pernyataan tidak memberikan pernyataan langsung di depan forum bersama pada saat itu, agar segera di tindaklanjuti oleh tim dari Disparbud. Padahal saat launching oknum yang memberi pernyataan juga hadir.

Juga pernyataan seorang oknum yang mengatakan bahwa Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Nias Barat menuding telah melakukan pembohongan kepada warga Desa Sisobaoho.

Bahkan pada kesempatan tersebut, ada beberapa rekan-rekan wartawan dari Media Online  yang datang ke lokasi, termasuk rekan-rekan yg membuat pernyataan di Media Sosial.

Kadisparbud Elfira menuturkan bahwa tidak mudah bagi Disparbud Nias Barat untuk membuka peluang bagi Desa Sisaoboho dengan kondisi dan stigma Desa tersebut.

Jadi, jika hal ini akhirnya terjadi. Ketika Desa Sisobaoho mulai merintis sedikit demi sedikit dan mulai berkembang, sungguh amat menyesali dan kecewa dengan tindakan-tindakan oknum tersebut yang akhirnya akan merugikan Desa Sisobaoho dan Objek Wisatanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Nias Barat terbeban karena melihat harapan-harapan dan upaya keras warga membenahi Desa. Kadis Pariwisata hanya mencoba membantu warga Desa mewujudkan harapannya dengan apa yg bisa di lakukan serta apa yg menjadi kewenangan selaku Kepala Dinas.

Jika pada akhirnya, dalam upaya ini masih ada yang merasa tidak senang ataupun merasa kurang puas, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dan semoga hal ini tidak menjadi penghambat berkembangnya Desa Sisobaoho dan Nias Barat.

Elfira juga berterimakasih kepada rekan-rekan Pegawai dan Staf Disparbud serta Pemdes Sisobaoho. Ditengah-tengah keadaan yang kurang baik ini tetap memberikan semangat dan tetap bersemangat untuk memajukan Desa Wsata di Nias Barat. (Red-49U5 Laia)

Comment

Related Post