by

BNN GARAP BEKAS LADANG GANJA JADI LAHAN PERTANIAN PRODUKTIF


 

JAKARTA, MIMBAR BANGSA Usai dilakukan pemusnahan ladang ganja, muncul pertanyaan dimasyarakat apa yang akan dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) agar ladang yang telah dimusnahkan tersebut tidak kembali ditanami ganja. BNN selaku stake holder dibidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Indonesia saat ini tengah mengembangkan program Grand Design Alternative Development (GDAD) yang digawangi oleh Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN.

Kasi Pemantauan dan Evaluasi Masyarakat Pedesaan Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN, Andarsari Pradani, saat mengikuti kegiatan Pemusnahan Ladang Ganja menjelaskan bahwa pihaknya tengah berupaya mengembangkan program GDAD di beberapa lokasi yang dijadikan Pilot Project salah satu program unggulan BNN tersebut. GDAD sendiri merupakan program yang terintegrasi dari aksi stakeholder dalam beberapa bidang pembangunan (Sosial Budaya, Keamanan dan Ketertiban, Pembangunan Ekonomi, Pelestarian Lingkungan Hidup, Ketahanan Pangan, serta Agro Wisata).

“Sejauh ini peran stakeholder baik pusat dan daerah sudah nyata diimplementasikan pada kawasan pilot project. Walaupun ada juga yang masih perlu asistensi dalam perencanaannya,” ujar Andar.

Menurutnya hal ini sangat berdampak, terutama pada lokasi pilot project yang sudah terlibat dalam program GDAD di wilayah setempat. Andar menambahkan total lahan capaian di tahun 2019 pada pilot project GDAD di Aceh Besar mencapai luas 30 Ha dengan tanaman komoditi Jagung dan melibatkan 50 orang petani lokal. Sementara di Kabupaten Bireun, terdapat 11.017 Hektar komoditi jagung hasil pengelolaan program GDAD dan melibatkan 5.509 petani. Sedangkan di wilayah Gayo Lues, sebanyak 54 hektar tanaman jagung ditanam oleh 64 orang petani dan 209 hektar lahan ditanami kopi oleh 169 orang petani. Semua itu berada pada pengawasan program GDAD yang dimotori oleh BNN bersama instansi terkait.

Saat disinggung tentang adakah target aceh bebas ladang ganja, Andar menjelaskan bahwa sejauh ini pihaknya masih menargetkan untuk persiapan menjadi agropolitan (Abes dan Bireuen) dan Agrowisata (Gayo) pada tahun 2025.

“Artinya ini adalah PR yang besar dalam implementasi GDAD. Target GDAD sendiri ialah menciptakan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat, jika ini tercapai hal pokok yang mendasari kultivasi ganja adalah kemiskinan/pengangguran dapat terentaskan sehingga penanaman menjadi berkurang,” pungkas Andar. (FN)


Comment

Related Post