by

Bangga! Tempe Jadi Favorit Warga Papua Nugini

Jakarta, MimbarBangsa.co.id – Rupanya, tempe tidak hanya populer bagi penduduk Indonesia. Warga Papua Nugini selalu menanti tempe saat hari pasar.

Sebelum pandemi Covid-19, di hari Selasa, Kamis, dan Sabtu menjadi hari yang dirindukan warga Papua Nugini (PNG) yang tinggal di Wutung, Provinsi Sandaun.


Mereka berbondong-bondong melintasi PLBN Skouw pergi ke Pasar Perbatasan Skouw atau warga PNG menyebutnya Marketing Point Market, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari perbatasan Indonesia-PNG.

Warga Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura menyebut Selasa, Kamis dan Sabtu dengan Hari Pasar. Tiga hari dalam seminggu ini merupakan hari paling ramai dan paling meriah di Pasar Skouw.

Bagi warga Papua Nugini, barang-barang yang dijual di Pasar Perbatasan Skouw harganya lebih murah, jenis barangnya beragam dan tentu saja kualitas barangnya dinilai bagus.

Selain berbelanja sembako, minuman bersoda dan rokok buatan Indonesia, warga PNG ini juga sangat menyukai kuliner khas Indonesia yang harganya sangat merakyat dan terjangkau, sebut saja bakso, nasi campur, gado-gado, pecel, cilok, pentolan, siomay, gorengan tahu maupun tempe.

Menurut mereka, tahu dan tempe tidak ada di PNG. Makanan yang enak, murah, dan sangat digemari.

Satu kina dapat lima gorengan, 2 kina dapat 10 gorengan yang setara dengan Rp 10 ribu rupiah.

Mereka menyebutnya dalam bahasa tokpisin atau PNG english yaitu frid tempeh atau frid tofu.

Selain membeli yang sudah jadi gorengan, mereka juga membawa tahu atau tempe yang masih mentah atau belum dimasak. Tiga buah tahu dihargai 2 kina atau Rp 10 ribu. Empat buah tempe yang dibungkus plastik dihargai 2 kina.

Semua transaksi di Pasar Perbatasan Skouw menggunakan rupiah, warga PNG ini terlebuh dahulu menukar kina mereka dengan rupiah.

Tahu dan tempe ini oleh penjual di Pasar Perbatasan Skouw dibeli pada pagi hari di pengrajin tahu dan tempe di Koya dan Abepura, Kota Jayapura.

Sejak pandemi, PLBN Skouw ditutup, namun warga Papua Nugini dapat melintasi jalan tikus untuk melintasi perbatasan, tentu saja dengan memakai kartu kuning.

Sejak pandemi Covid-19, kios pasar perbatasan Skouw tetap buka seperti biasa namun tidak beroperasi normal.

 

 

 

oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua

Comment

Related Post